Desa kelahiran Habib Muhsin berdekatan dengan Desa Mangli, Magelang, Jawa Tengah, yang terkenal dengan ketokohan Kiai Hasan Asy’ari, atau termasyhur dengan Mbah Mangli. Seminggu sekali, di waktu kecilnya itu, tiap Ahad pagi ia bersama ayahnya menghadiri pengajian Kiai Mangli. Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki sekitar lima sampai enam kilometer, karenanya sebelum subuh ia harus sudah berangkat. Ribuan orang hadir saat itu. Suasana ruhaniyah di majelis yang bertempat di areal pegunungan yang tinggi itu sangat terasa indah baginya.
Putra kelima dari enam saudara sekandung putra pasangan Ibu Zahriyah dan Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas ini menamatkan pendidikan enam jenjang kelasnya di Gontor selama lima tahun. Lepas dari Gontor, ia ikut mengajar pada salah satu madrasah di kampung kelahirannya, yang didirikan salah seorang pamannya dari ibu, yang lulusan Madinah.
Semangat belajarnya yang ingin meneruskan pelajaran hingga ke Timur Tengah membawa langkah kakinya hingga ia berangkat ke Jakarta untuk mencari beasiswa kuliah di sana. “Di sela-sela usaha saya ingin mendapatkan beasiswa dari King Saud University Riyadh, saya pun mengambil diploma satu pengajaran bahasa Arab di LIPIA selama satu tahun. Setelah itu barulah saya mendapat panggilan dari Arab Saudi, sekitar akhir 1989 atau awal 1990.”
Di sana pendidikan ia jalani selama lima tahun, setahun pertama untuk mengikuti matrikulasi persamaan kurikulum sebelum efektif masuk kuliah di Fakultas Pendidikan jurusan Agama Islam.
Universitas di Riyadh ini merupakan perguruan tinggi yang umum, tidak sebagaimana di Universitas Islamiyah di Madinah, yang cenderung doktriner ala paham Wahabi. Sehingga justru ketika mengambil penjurusan, mahasiswa dipersilakan untuk memilih kajian berbagai madzhab yang ada di dunia Islam. Karenanya, saat mengambil mata kuliah ushul fiqh, misalnya, ia memilih kelas Dr. Husein Turturi asal Palestina, yang bermadzhab Syafi’i.
Di akhir perbincangan dengan alKisah, Habib Muhsin menyampaikan sejumlah harapannya seputar dunia dakwah saat ini.
“Saya kira, kini sudah saatnya umat Islam, terutama para tokohnya, merapatkan barisan demi persatuan umat yang kokoh. Umat harus diajak berpikir cerdas untuk dapat memilah perbedaan-perbedaan, mana yang prinsip dan mana yang tidak prinsip. Di sinilah peran para tokohnya agar dapat berlapang dada dalam menerima berbagai perbedaan dan memberikan edukasi yang tepat di tengah masyarakat tentang perbedaan yang prinsip dan tidak prinsip dan menjadi teladan dalam mempersatukan umat. Tak jarang, karena masalah-masalah furu’ (cabang), yang tidak prinsip, kita bertikai.”
Dalam kaitannya dengan dakwah di lingkungan habaib, para dzuriyah Rasulullah SAW, ia menuturkan, para ajdad (leluhur) mendapat penghormatan sedemikian rupa di tengah masyarakat Nusantara, bahkan dunia, bukan karena mereka memintanya, tapi karena keluhuran akhlaqnya, ketinggian ilmunya, bakti ikhlasnya di tengah umat. “Ketika ada kebencian kepada habaib, jangan mudah menyalahkan. Hendaknya kita introspeksi, mungkin ini karena kita tidak lagi menapaktilasi jalan akhlaq, jalan ilmu, jalan khidmahnya habaib tempo dulu,” ujarnya.
“Habaib tempo dulu itu berperilaku dengan akhlaq yang mengesankan semua pihak. Namun perlu diingat, perjuangan dalam dakwah itu dijalani dengan halnya, sesuai dengan kondisinya. Sekarang, misalnya, kezhaliman sudah merajalela di mana-mana, apa kita harus berdiam diri terus menyikapi itu semua? Bukankah tak sedikit pula tokoh habaib di Hadhramaut terdahulu yang pernah masuk penjara, apa lalu itu disalahkan? Tidak, mereka masuk penjara justru karena menyuarakan yang haq. Jadi, cara kita berjuang itu tergantung situasinya,” katanya.
“Ada sebuah kaidah yang mengatakan almuhafazhatu bil qadimishshalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, kita melestarikan hal-hal baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Kaidah ini juga kita terapkan dalam perjuangan dakwah kita,” katanya memungkasi wawancara dengan alKisah.
Kini, selain menjabat ketua bidang dakwah DPP FPI, penasihat MUI kota Depok Komisi Kerukunan Umat, ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) kota Depok, presiden Laskar Anti Korupsi Pejuang 45 (LAKI P45), ia juga aktif membina sejumlah majelis ta’lim di beberapa tempat, seperti Majelis Ta’lim, Dzikir, dan Shalawat Baabul Khoiroot Lilmuhibbina, Kampung Bojong, Kemang, Bogor, yang saat ini tengah dirintis dan dibinanya secara langsung.
Kisah Habib Muhsin dan saatnya Ummat Bersatu
Related Templates
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar