animasi  bergerak gif
Berita Pejuang Islam. Diberdayakan oleh Blogger.
SLIDE POST

Ketua Dewan Syuro KH. Misbahul Anam Bacakan Hasil Munas FPI ke III

Setelah menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) ke III yang berlangsung dari tanggal 22-24 Agustus 2013 lalu di Asrama Haji kota Bekasi. Para pengurus Front Pembela Islam (FPI) dari seluruh wilayah Indonesia menghasilkan beberapa keputusan penting terkait permasalahan umat Islam dan bangsa Indonesia.

Berikut adalah hasil lengkap Munas FPI ke III yang dibacakan oleh KH. Misbahul Anam (Ketua Dewan Syuro FPI) pada acara puncak Munas FPI di markas mereka jalan Petamburan Jakarta Ahad (25/8/2013) kemarin:

1. Munas telah memilih dengan musyawarah mufakat Al-Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Syihab sebagai Imam Besar FPI seumur hidup.

2. Menerima 4 pilar negara selama ke empat pilar tersebut ditafsirkan dengan Syariat Islam.

3. NKRI adalah harga mati sejangkal tanah pun FPI tidak rela untuk lepas dari pangkuan negeri ini.

4. Menolak diadakannya ajang kontes Miss World digelar di seluruh wilayah Indonesia.

5. Menuntut kepada pemerintah agar segera membubarkan Densus 88.

6. Menolak adanya industri miras (minuman keras) di wilayah kesatuan republik indonesia.

7. Menyerukan kepada seluruh umat Islam Indonesia dan mewajibkan kepada aktivis, pengurus FPI di seluruh Indonesia agar memilih anggota legislatif, DPR RI, DPRD, DPD yang pro Syariat dan haram memilih anggota legislatif, DPR RI, DPRD, DPD serta Capres dan Wacapres pemilu 2014 yang anti Syariat Islam.

8. Mendesak kepada OKI untuk berperan aktif dalam menyelesaikan kasus krisis Mesir dan mengajukan militer mesir ke pengadilan internasional serta masalah umat Islam di seluruh dunia.
1

Pandangan FPI : Indonesia adalah negara Islam, tetapi belum kaffah


Menurut pandangan FPI, Indonesia diakui atau tidak, sebelum merdeka atau setelah merdeka, Indonesia sudah menjadi negara Islam, hanya belum kaffah. Hal tersebut terbukti dari mayoritas penduduk Indonesia muslim, Presiden dan Wakil Presidennya pun muslim hingga saat ini. Demikian yang dikatakan Ustadz Awit dari DPP Front Pembela Islam (FPI) dalam sebuah Tabligh Akbar di Bekasi.

Ustadz Awit juga menambahkan bahwa sebuah negara bisa di hukumi sebagai negara Islam, apabila penduduknya mayoritas Islam, dipimpin oleh orang Islam, penduduk umat Islam tersebut diperbolehkan melaksanakan syarait Islam. Maka negeri tersebut bisa dikatakan seagai negara Islam.

Ustadz Awit mengatakan bahwa hukum Islam itu, terbagi menjadi empat bagian:

  1. Pertama, hukum Allah yang berkaitan dengan individu, seperti puasa, zakat dan haji. Selama ini umat Islam Indonesia tidak dilarang untuk berpuasa, shalat, zakat, haji. Ini  berarti hukum Allah sudah bisa dilaksanakan.

  2. Kedua, hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan masalah tatatan rumah tangga, seperti nikah secara Islam, bercerai secara Islam, bagi waris juga tidak dilarang di Indonesia, bahkan pemerintah menyediakan tempatnya, yaitu Pengadilan Agama.
  3. Ketiga, hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan masalah sosial dan kemasyarakatan. Dalam hal ini, umat Islam tidak dilarang menyekolahkan putra-putri ke sekolah Islam, bahkan mendirikan sekolah Islam pun tidak dilarang, termasuk menabung dan mendirikan bank syariah juga tidak dilarang.

Ustadz Awit menilai bahwa yang belum dilaksanakan umat Islam dindonesia saat ini adalah hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan kekuasaan atau Daulah Islamiyah.

Jadi, umat Islam Indonesia sudah 75 persen melaksanakan syariat Islam, tinggal 25 persen hukum Allah yang belum diterapkan, yakni merebut kekuasaan untuk menjadikan Indonesia sebagai Daulah Islamiyah. “Inilah PR umat Islam yang harus terus diperjuangkan. Karena itu kita harus siap merebutnya,” ujar Ustadz Awit.

Ustadz Awit sangat menyayangkan, jika nasib bangsa Indonesia yang mayoritas umat Islam ini, seperti tikus yang mati di lumbung padi. Kekayaan alam di republik ini, habis dikeruk oleh asing. Ia menilai bahwa semua itu terjadi karena Indonesia tidak punya Undang-undang yang mengatur untuk menghentikan hal ini. Kalau sudah ada UU yang mengaturnya, orang kafir tidak bisa seenaknya mengeruk kekayaan alam Indonesia.

Tak kalah parahnya adalah korupsi di negeri ini makin bertambah mengingat sanksi hukum yang dikenakan lemah dan masih menggunakan hukum Belanda. Giliran rakyat kecil, dipenjara dengan hukuman yang seberat-beratnya. Kalau saja, sanksi hukum untuk koruptor diterapkan hukum potong tangan, pasti akan ada efek jeranya.

“FPI bahkan sudah meminta DPR untuk menerapkan hukum  potong tangan bagi koruptor di Indonesia. Tapi pejabat kita menolak hukum itu. Namun demikian, FPI cukup lega dengan munculnya perda-perda syariah di berbagai daerah, sehingga orang-orang sekuler merasa tidak nyaman,” tukas Ustadz Awit kecewa.

NII GADUNGAN

Terkait tentang bahasan daulah Islam, Ustadz Awit menjelaskan bahwa dukungan umat Islam terhadap penerapan syariat Islam sendiri sesungguhnya cukup besar. Sejarah mencatat, pada 7 Agustus 1949,  Kartosuwiryo membentuk DI/TII, dimana ketika itu sudah mendapat dukungan dari umat Islam di Indonesia, terbukti di Sulawesi ada Kahar Muzakar, di Sumatera ada Daud Beureuh.
Namun dalam pelaksanaannya, NII Kartosuwiryo dicoreng citranya oleh intelijen yang  mengatasnamakan NII. Kemudian muncullah NII gadungan, yang kerjaannya merampok, memeras, memperkosa, membunuh kiai dan membakar rumah warga. Akhirnya NII yang asli diopinikan sebagai perampok dan pengganggu masyarakat. Kartosurwiryo pun dipagar betis dan gugur.
Belakangan, diopinikan lagi oleh NII KW IX (bukan NII nya Kartosuwiryo), tapi NII buatan intelijen, yang tujuannya untuk merontokan NII Kartosuwiryo.

Isu NII dikeluarkan untuk menghambat gerak ormas dan aktivis Islam yang bersatu padu untuk menerapkan syariat Islam. Lalu dibuatlah opini yang menyesatkan, kalau bikin  negara Islam, maka akan diajarkan merampok dan menipu, seperti itu intelijen merusak citra NII Kartosuwiryo yang didukung oleh umat Islam.” Ujar Ustadz Awit.

Dengan pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh akan terlihat bahwa Islam tidak pernah mengajarkan merampok, menipu, memutuskan silaturahim. Yang ada malah sebaliknya.
Islam melarang perampokan, mencuri, dan diwajibkan untuk terus memelihara silaturrahim. Apa yang dilakukan intelijen bada dasarnya adalah upaya untuk menohok dan menjelekkan gerak aktivis Islam agar berhenti menerapkan syariat Islam.
0

Netanyahu Geram Dikatakan Zionisme Adalah Kejahatan Kemanusiaan Oleh Turki

WartaNews, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sangat marah kepada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk yang menggambarkan Zionisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.

"Saya sangat mengutuk perbandingan menarik perdana menteri Turki antara Zionisme dan fasisme," kata Netanyahu, dan menambahkan, "Saya telah berpikir bahwa komentar gelap dan mencemarkan nama tersebut adalah sesuatu dari masa lalu."

Dia membuat pernyataan dalam menanggapi pidato Erdogan pada sesi pembukaan Forum Aliansi Peradaban Kelima di ibukota Austria Wina, di mana ia berkata, "Sama seperti Zionisme, anti-Semitisme dan fasisme, menjadi tidak dapat dihindari bahwa Islamophobia harus dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan."

Perdana menteri Turki lebih lanjut mencela rasisme meningkat di Eropa sebagai masalah serius bagi Proyek Aliansi Peradaban.

Pengembangan datang ketika, Turki memutuskan semua hubungan dengan Israel atas pembunuhan 2010 dari sembilan aktivis Turki pada armada bantuan menuju Gaza, pengaturan permintaan maaf resmi, membayar kompensasi kepada keluarga para korban dan mengakhiri blokade Jalur Gaza sebagai prasyarat untuk normalisasi hubungan dengan rezim Israel.

Sementara itu, surat kabar Radikal Turki mengatakan baru-baru ini bahwa pertemuan rahasia telah diadakan antara pejabat Israel - Turki, dan Israel akan meminta maaf atas kesalahan operasional dalam serangan fatal.

Israel juga telah menyatakan siap untuk memenuhi kondisi kedua, penawaran kompensasi, kata laporan itu, yang menambahkan bahwa Turki telah memutuskan untuk mengabaikan kondisi ketiga.
0

Kebiadaban Perdana Menteri iIsrael Benjamin Netanyahu Atas Warga Palestina


GAZA-(IDB): Serangan udara Israel menewaskan dua orang di Jalur Gaza, Ahad, kata para dokter, sehari setelah para pejuang Palestina mengatakan bahwa mereka akan meredakan ketegangan bilamana Israel berbuat serupa.

"Dua warga Palestina tewas dan seorang lainnya cedera Ahad pagi akibat serangan udara Israel terhadap sasaran-sasaran di timur Jabaliya," kata Adham Abu Senmya, juru bicara badan urusan darurat Gaza.

Militer tidak dapat segera dihubungi untuk diminta komentar mengenai berita itu.

Pada Sabtu, setelah seminggu bentrokan berdarah dengan Israel yang menewaskan delapan warga Palestina, para pejuang yang dipimpin para penguasa Hamas di Gaza bertemu dan mengumumkan mereka ingin memulihkan ketenangan di wilayah pantai itu.

Pejabat Hamas, Ismail Radwan, mengemukakan kepada wartawan setelah pertemuan dua jam dengan Jihad Islam dan faksi-faksi lainnya bahwa: "Kami berjanji untuk menjaga ketenangan selama penjajah (Israel) juga melakukan hal yang sama."

Tidak ada reaksi segera dari Israel menyangkut pernyataan para pejuang itu, tetapi kabinet akan bersidang Ahad siang ini.

Akan tetapi, pada Jumat lalu, Perdana Menter iIsrael, Benjamin Netanyahu, mengatakan Israel siap bertindak dengan "kekuatan besar" untuk menanggapi serangan roket dan mortir, yang memicu pembalasan dari Israel.

Netanyahu mengatakan, Israel telah jadi "sasaran-sasaran aksi-aksi teror dan serangan-serangan roket" dan "kami siap bertindak dengan kekuatan besar dan tekad bulat untuk menghentikannya."

Setelah pertemuan pada Sabtu di Gaza City, Khader Habib, seorang pemimpin Jihad Islam mengemukakan kepada AFP bahwa "semua pihak menegaskan bahwa mereka menghormati konsensus nasional dengan menciptakan ketenangan dengan Zionis itu."

Tetapi ia mengatakan ini "tergantung pada tindak tanduk Israel, dan kami menegaskan tentang perlunya tanggapan segera setiap peningkatan ketegangan oleh penjajah itu."

Dan Osama al Haj Ahmed, seorang pemimpin Front Rakyat mengatakan "faksi-faksi menegaskan komitmen mereka pada konsensus nasional untuk tidak memberikan para agresor dalih" untuk menyerang.


Pada hari Rabu, Hamas telah berjanji akan memulihkan ketenangan di wilayah pantai itu.

Juru bicara Taher al Nunu mengatakan "Kami akan berusaha memulihkan kondisi lapangan yang normal dalam beberapa minggu belakangan ini."

Ia mengacu pada gencatan senjata defakto yang dilanggar 16 Maret, ketika serangan udara Israel menewaskan dua pejuang Hamas di Gaza.

Persis sebelum pertemuan di Gaza dimulai, militer Israel mengatakan, satu roket yang ditembakkan dari Gaza ke kota Sderot, Israel tidak menimbulkan korban dan kerusakan properti.

Dan para pejuang Gaza menembakkan dua roket ke Israel Jumat malam, dengan satu merusak sebuah rumah yang menurut media Israel delapan orang sedang tidur di tempat itu tidak mengalami cedera.

Ketika mengunjungi lokasi itu, komandan militer wilayah selatan Israel Mayjen Tal Pisso mengatakan tampaknya Hamas tidak dapat memberlakukan ketenangan di Gaza.

Menteri Pertahanan Ehud Barak mengunjungi perbatasan Gaza, Jumat dengan panglima militer Letjen Benny Gantz mengatakan situasi kembali tenang di daerah itu.

Dan mengisyaratkan jika serangan-serangan dihentikan, Israel juga akan menghentikan serangan ke Gaza.

Di Israel, pekan lalu Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates mengatakan Washington mendukung penuh hak Israel untuk menanggapi serangan roket dan serangan bom di sebuah bus di Jerusalem Rabu yang ia sebut sebagai "aksi-aksi yang menjijikkan."

Para pemimpin Israel tampaknya enggan terseret dalam perang berdarah lainnya dengan Hamas, terutama karena mereka tidak mendapat dukungan internasional bagi setiap serangan baru terhadap Gaza.
0

Diangkat Jadi Ketua Umum FPI, Habib Muchsin Ucapkan Innalillahi

Ketua Umum FPI, Habib Muchsin Alatas (kedua dari kiri) beserta jajaran pengurus DPP FPI saat musyawarah nasional 2013 di Bekasi


Jakarta (SI Online) - Habib Muchsin Al Aththas resmi diangkat menjadi Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) menggantikan Habib Rizieq Syihab yang sebelumnya sudah diangkat menjadi Imam Besar FPI melalui musyawarah nasional di Bekasi beberapa waktu lalu.

Ketua umum yang baru beserta jajaran pimpinan pusat FPI dilantik tadi malam, Rabu (6/11/2013) di Masjid Al Islah, Petamburan, Jakarta Pusat. Habib Muchsin mengatakan jabatannya saat ini merupakan amanah yang berat.

"Saya mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, dua hari saya tidak bisa tidur karena saya khawatir tidak bisa menjalankan tugas ini. Tapi karena ini sudah keputusan musyawarah, saya samina waatho'na (saya dengar, saya ikuti)," ujar Habib Muhcsin dalam pengajian bulanan FPI.

Menurut Habib Muchsin, jabatan adalah ujian yang bisa menjadi musibah, jika jabatan itu menjadi impian berati itu sudah pertanda tidak baik.

"Kita harus lestarikan bahwa jabatan itu musibah, jika jabatan itu impian apalagi ada kecurangan seperti money politik maka menjadi pertanda kehancuran negara," ujarnya.

Habib Muchsin kemudian mencontohkan kisah sahabat nabi Abu Dzar al Ghifari yang meminta jabatan.

"Abu Dzar al Ghifari, adalah sahabat yang meminta jabatan kepada Rasulullah Saw. Namun Rasul menolaknya karena menganggap Abu Dzar itu lemah. Rasul mengatakan: Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar," demikian cerita Habib Muchsin.

0

Ulama NU Jember Geruduk Diskotik


 Jember (beritajatim.com) - Sejumlah ulama menggeruduk sebuah diskotik di kompleks pertokoan Gajah Mada Square, Jalan Gajah Mada, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (8/11/2013) sore. Mereka menuntut agar tempat hiburan itu ditutup karena dinilai menjadi tempak maksiat.

Para ulama itu datang dengan didampingi anggota Komisi D Bidang Kesejahteraan Rakyat DPRD Jember Khoirul Hadi. Mereka langsung ditemui oleh Wakil Kepala Kepolisian Resor Jember Komisaris Cecep Susatya yang berjaga. Polisi mengantisipasi terjadinya bentrokan antara santri yang mengikuti ulama dengan para penjaga diskotik.

Ada dua tempat dalam satu kompleks yang disasar para ulama, yakni diskotik dan rumah karaoke. Ulama dan perwakilan warga sekitar berang, karena dua tempat itu berdekatan dengan dua masjid dan makam tokoh Nahdliyyin KH Achmad Shiddiq.

"Kiai Achmad Mursyid (salah satu ulama NU saat masih hidup) menangis melihat di antara dua masjid ada tempat maksiat," seru Kiai Iqbal, seorang ulama.

"Kami tak hendak melawan polisi. Kami hanya ingin menegakkan amar ma'ruf nahi munkar (mencegah kejahatan dan mengajak kebaikan)," tambah KH Abdul Hamid Hasbullah. Para perwakilan ulama akhirnya bersedia bertemu dengan perwakilan pengelola diskotik dan karaoke di salah satu cafe yang dikosongkan.

0

Kisah Habib Muhsin dan saatnya Ummat Bersatu

Desa kelahiran Habib Muhsin berdekatan dengan Desa Mangli, Magelang, Jawa Tengah, yang terkenal dengan ketokohan Kiai Hasan Asy’ari, atau termasyhur dengan Mbah Mangli. Seminggu sekali, di waktu kecilnya itu, tiap Ahad pagi ia bersama ayahnya menghadiri pengajian Kiai Mangli. Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki sekitar lima sampai enam kilometer, karenanya sebelum subuh ia harus sudah berangkat. Ribuan orang hadir saat itu. Suasana ruhaniyah di majelis yang bertempat di areal pegunungan yang tinggi itu sangat terasa indah baginya.

Putra kelima dari enam saudara sekandung putra pasangan Ibu Zahriyah dan Habib Ahmad bin Hasan Al-Attas ini menamatkan pendidikan enam jenjang kelasnya di Gontor selama lima tahun. Lepas dari Gontor, ia ikut mengajar pada salah satu madrasah di kampung kelahirannya, yang didirikan salah seorang pamannya dari ibu, yang lulusan Madinah.

Semangat belajarnya yang ingin meneruskan pelajaran hingga ke Timur Tengah membawa langkah kakinya hingga ia berangkat ke Jakarta untuk mencari beasiswa kuliah di sana. “Di sela-sela usaha saya ingin mendapatkan beasiswa dari King Saud University Riyadh, saya pun mengambil diploma satu pengajaran bahasa Arab di LIPIA selama satu tahun. Setelah itu barulah saya mendapat panggilan dari Arab Saudi, sekitar akhir 1989 atau awal 1990.”

Di sana pendidikan ia jalani selama lima tahun, setahun pertama untuk mengikuti matrikulasi persamaan kurikulum sebelum efektif masuk kuliah di Fakultas Pendidikan jurusan Agama Islam.

Universitas di Riyadh ini merupakan perguruan tinggi yang umum, tidak sebagaimana di Universitas Islamiyah di Madinah, yang cenderung doktriner ala paham Wahabi. Sehingga justru ketika mengambil penjurusan, mahasiswa dipersilakan untuk memilih kajian berbagai madzhab yang ada di dunia Islam. Karenanya, saat mengambil mata kuliah ushul fiqh, misalnya, ia memilih kelas Dr. Husein Turturi asal Palestina, yang bermadzhab Syafi’i.

Di akhir perbincangan dengan alKisah, Habib Muhsin menyampaikan sejumlah harapannya seputar dunia dakwah saat ini.

“Saya kira, kini sudah saatnya umat Islam, terutama para tokohnya, merapatkan barisan demi persatuan umat yang kokoh. Umat harus diajak berpikir cerdas untuk dapat memilah perbedaan-perbedaan, mana yang prinsip dan mana yang tidak prinsip. Di sinilah peran para tokohnya agar dapat berlapang dada dalam menerima berbagai perbedaan dan memberikan edukasi yang tepat di tengah masyarakat tentang perbedaan yang prinsip dan tidak prinsip dan menjadi teladan dalam mempersatukan umat. Tak jarang, karena masalah-masalah furu’ (cabang), yang tidak prinsip, kita bertikai.”

Dalam kaitannya dengan dakwah di lingkungan habaib, para dzuriyah Rasulullah SAW, ia menuturkan, para ajdad (leluhur) mendapat penghormatan sedemikian rupa di tengah masyarakat Nusantara, bahkan dunia, bukan karena mereka memintanya, tapi karena keluhuran akhlaqnya, ketinggian ilmunya, bakti ikhlasnya di tengah umat. “Ketika ada kebencian kepada habaib, jangan mudah menyalahkan. Hendaknya kita introspeksi, mungkin ini karena kita tidak lagi menapaktilasi jalan akhlaq, jalan ilmu, jalan khidmahnya habaib tempo dulu,” ujarnya.

“Habaib tempo dulu itu berperilaku dengan akhlaq yang mengesankan semua pihak. Namun perlu diingat, perjuangan dalam dakwah itu dijalani dengan halnya, sesuai dengan kondisinya. Sekarang, misalnya, kezhaliman sudah merajalela di mana-mana, apa kita harus berdiam diri terus menyikapi itu semua? Bukankah tak sedikit pula tokoh habaib di Hadhramaut terdahulu yang pernah masuk penjara, apa lalu itu disalahkan? Tidak, mereka masuk penjara justru karena menyuarakan yang haq. Jadi, cara kita berjuang itu tergantung situasinya,” katanya.

“Ada sebuah kaidah yang mengatakan almuhafazhatu bil qadimishshalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, kita melestarikan hal-hal baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Kaidah ini juga kita terapkan dalam perjuangan dakwah kita,” katanya memungkasi wawancara dengan alKisah.

Kini, selain menjabat ketua bidang dakwah DPP FPI, penasihat MUI kota Depok Komisi Kerukunan Umat, ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) kota Depok, presiden Laskar Anti Korupsi Pejuang 45 (LAKI P45), ia juga aktif membina sejumlah majelis ta’lim di beberapa tempat, seperti Majelis Ta’lim, Dzikir, dan Shalawat Baabul Khoiroot Lilmuhibbina, Kampung Bojong, Kemang, Bogor, yang saat ini tengah dirintis dan dibinanya secara langsung.

0

Balasan Habib Rizieq kepada Jurnalis Islam Bersatu (JITU) terkait keberpihakan Habib Rizieq kepada Syi'ah

JAKARTA (voa-islam.com) Beredar pesan berantai dari Jitu (Jurnalis Islam bersatu) terkait tabayyun kepada .keberpihakan Habib Rizieq Syi'ah kepada
Lalu apa isi pesan berantai tersebut??
Berikut kutipannya dengan kami edit demi menyempurnakan tulisan karena banyaknya singkatan-singkatan kata, namun tidak merubah makna aslinya
----------------------------
Assalamu'alaikum wrwb. Yth Habib Rizieq.
Saya, ubay salman, dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU) (yang) mendengar rencana tampilnya habib di solo tanggal 6 muharram 1435/10 Nov 2013 dengan tema terkait ukhuwah Islamiyah.
Justru menurut saya, akan lebih terjaga ukhuwah sesama Muslim itu jika habib tak memenuhi utk datang ke acara itu, karena Saya dan teman-teman khawatir umat Islam Solo semakin kuat keyakinannya bahwa Habib Rizieq adalah Syiah.
Padahal ketika saya hadir pada acara bedah buku Muhammad Pizaro yang mengupas zionis & syiah di Solo,  jamaah sekitar 2.500-an itu, beberapa di antaranya mempertanyakan, kenapa buku Pizaro itu juga menampilkan komentar dari Habib Rizieq yang syiah.
Jadi rupanya para aktivis Islam di solo yakin Habib Rizieq adalah syiah. Muhammad Pizaro sempat membantah itu. Tetapi dengan kehadiran habib di acara yang oleh kalangan Islam Solo dianggap diselenggarakan oleh kalangan Syiah (ustadz Abu Bakar Ba'asyir sendiri sudah yakin pak Mudzakir adalah syiah), maka apalah artinya tema ukhuwah yang akan disampaikan.
Justru hal ini semakin tak kondusif, dimana sebelum ini sudah tegang dengan ingin eksisnya syiah di Solo, tetapi ditolak oleh para tokoh / elemen Islam Solo yg tetap menjaga akidah umat Islam Solo dari keyakinan aliran dan sekte-sekte sesat seperti syiah produk zionis.
Karena itu, saya dan teman-teman menyarankan kepada habib untuk tidak tampil dalam acara hari Ahad tersebut, justru untuk menjaga ukhuwah dan kondisivitas Solo. 
Di samping tentunya juga untuk menjaga habib dengan FPI dari pemanfaatan kaum syiah yg ingin mengadu domba dengan sesama Muslim.
Kami dari JITU, prinsipnya tetap sebagai kumpulan media Islam yang berpihak kepada Islam dan kaum Muslimin, dan menyatakan perang terhadap zionis yahudi dan aliran-aliran yang dibuatnya dengan tujuan menghancurkan umat Islam.
Demikian, semoga Allah melindungi hamba-hambar-Nya yang membela Dien-Nya. Syukron, jazakumullah khairan katsiran.
Salam.
M. Ubay Salman
Ketua majelis syuro JITU
----------------------------
Berikut kami screenshot lampirkan pesan asli agar pembaca voa-islam dapat melihat dalam format aslinya
Pernyataan Imam Besar Front Pembela Islam
terkait Pemberitaan Seputar "Ke-Syi'ahan" Ustadz Mudzakkir.

**********************

Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu.
Terima Kasih atas masukannya, Jazaakumullah Khoiron.

Saya kenal Ustadz Mudzakkir sudah lama, setahu saya beliau BUKAN SYI'AH, beliau tidak mengkafirkan Syi'ah memang ya, itu beliau akui secara terbuka dengan alasannya; tapi beliau SYI'AH itu apa buktinya ?!

Justru selama saya dekat dengan beliau, saya melihat rujukan dan pemikiran beliau, koleksi kitabnya, tata cara ibadanya, dan sebagainya beliau lebih tepat dikatakan WAHABI ketimbang SYIAH.

Jangan terlalu mudah menuduh seseorang TANPA BUKTI. Fitnah itu sangat berbahaya, SAYA SAJA yang ANTI SYI'AH dituduh SYI'AH juga, KENAPA...????

Soal pernyataan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir tentang kesyiahan Ustadz Mudzakkir, saya tidak percaya jika tidak mendengar langsung dari beliau. Setahu saya Ustadz Abu Bakar Ba'asyir adalah guru yang paling hati-hati dan selalu TABAYYUN sebelum berfatwa.

HATI-HATI ada Operasi Intelejent yang memecah belah kita dengan melempar issue agar kita saling mencurigai dan saling menyesatkan sehingga SALING HANTAM.

Terus terang, saya curiga bahwa yang menghembuskan issue SAYA dan USTADZ MUDZAKKIR serta beberapa kawan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah lainnya SEBAGAI SYIAH adalah AGEN PEMECAH BELAH UMMAT yang dibayar mahal sekali.

Wah, gawat sekali; kita melawan Syi'ah belum maksimal. Kok sesama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah sudah saling mengkafirkan. Justru kedatangan saya ke SOLO untuk mengurai BENANG KUSUT tersebut.

Afwan Wa Syukran.


ditulis kembali oleh Ustadz Murhali Barda. DPW FPI Bekasi Raya
Bekasi 05 Muharram 1435 H / 09112013

0

Habib Muhsin : FPI Bukan Penegak Hukum


Dalam muktamar FPI terakhir sekitar dua tahun silam, ayah empat anak ini dipercaya menjadi ketua Dewan Majelis Syura, sebelum akhirnya posisinya digantikan oleh K.H. Abdul Hamid Baidlowi dari Lasem, salah seorang kiai sepuh dalam lingkungan NU.

Saat berbincang-bincang dengan alKisah, Habib Muhsin banyak bertutur tentang kiprah FPI di tengah-tengah umat, sekaligus menjawab sejumlah pandangan miring tentang FPI. Berikut sebagian penuturannya:

Seiring dengan gerakan reformasi yang membawa angin segar pada perubahan yang semakin membuka lebar ruang kebebasan dalam berserikat, ditambah adanya keprihatinan dengan merebaknya kezhaliman, FPI pun berdiri. Sejak awal berdirinya, Agustus 1998, respons dari berbagai pihak terasa cukup baik.

“Kita sempat dituduh underbouw Soeharto. Sampai Soeharto wafat, FPI tetap berdiri tegak. Kita juga dianggap binaan parpol atau militer, misalnya isu-isu yang santer yang mengatakan bahwa FPI itu binaan Wiranto.

Kenyataannya, ketika mereka semua telah lengser, FPI tetap berjalan di jalannya secara istiqamah tanpa terpengaruh sedikit pun dengan pergolakan di panggung perpolitikan atau pergantian jabatan yang terjadi di kalangan militer. Nyata sudah, semuanya tak terbukti, masyarakat pun dapat menilai dengan terus berputarnya waktu.”

Sebagai organisasi kemasyarakatan resmi, FPI membuka lebar-lebar pintu interaksi dengan siapa pun: pemerintah, aparat hukum, politisi, dan sebagainya. FPI tidak dekat dengan mereka, dalam artian tidak selalu memiliki kaitan emosional yang searah dengan mereka semua itu, tapi jauh pun, dalam artian berseberangan di segala hal, juga tidak. Semuanya serba situasional, berdasarkan garis perjuangan dakwah FPI.

Sewaktu Milad I FPI di Ciputat, 1999, waktu itu panglima TNI Wiranto hadir, sehingga semua jajaran di bawahnya ikut hadir, termasuk SBY, yang saat itu masih aktif di militer. Kejadian itu acap dijadikan bumbu gosip tak sedap di balik berdirinya FPI.

Setelah Wiranto turun dari jabatannya, FPI tak terpengaruh apa-apa, bahkan semakin melebarkan sayap dakwahnya. Kini saat SBY sudah menjadi presiden, FPI pun kerap berseberangan pandangan dengannya.

“Saat peringatan Milad I FPI itu, Kapolda DKI Jakarta juga hadir saat itu. Tak masalah, karena kita memang selalu berusaha menjalin hubungan baik dengan pihak kepolisian. Kita undang mereka. Tapi kalau karena itu kita dikatakan binaan polisi, nyatanya dalam beberapa kesempatan kita pun berseberangan keras dengan mereka.”

Harus dipahami, FPI memang bergerak dalam wilayah penegakan hukum, tapi FPI tidak memposisikan diri sebagai penegak hukum. Aparat penegak hukum, itu domain pemerintah, penegak hukumnya, seperti kepolisian dan instansi-instansi penegak hukum lainnya.

FPI adalah gerakan masyarakat yang ingin agar penguasa menegakkan hukum dengan sebenarnya. Sehingga dalam sepak terjangnya, FPI selalu berupaya dengan mengingatkan, mengimbau, menyurati, dan seterusnya. Ini adalah bentuk penekanan masyarakat untuk penegakan hukum itu sendiri. Yang sering kali terjadi, ketika penegakan hukum terasa lemah, akhirnya masyarakatlah yang turun.

Sebenarnya, kalau penegakan hukumnya kuat, masyarakat tak perlu bereaksi. Ini semacam hukum asap dan api. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api.

“Suatu ketika, FPI pernah menggerebek gedung tempat perjudian, kemudian semua barang buktinya kita serahkan ke kepolisian. Itu pun setelah sebelumnya kita melewati proses yang panjang, lewat pelaporan, pelampiran bukti-bukti awal, dan sebagainya. Karena tidak juga bergerak, entah karena alasan apa, masyarakat yang akhirnya bergerak. Ini kan semestinya harus dilihat sebagai bentuk partisipasi masyarakat untuk membantu polisi dalam menegakkan hukum.

FPI memiliki hubungan yang intens dengan para ulama, terutama para ulama sepuh. Contohnya, dengan Kiai Abdullah Faqih (alm.) dari Langitan, yang baru wafat beberapa bulan silam. Hubungan FPI sangat hangat dengan beliau. Semasa hidupnya, beliau terus memberi spirit perjuangan untuk FPI, terutama ketika FPI dicoba digembosi oleh beberapa oknum warga nahdliyin yang aktivis liberal yang menuduh bahwa FPI itu Wahabi. Atas masukannya pula, K.H. Hamid Baidlowi Lasem kini menjadi ketua Dewan Syura di DPP FPI. FPI pun menyambut baik masukan dari ulama sepuh kita ini.”

FPI menyadari, hidup dan bergerak di tengah-tengah masyarakat membuat mereka dari waktu ke waktu harus terus membangun interaksi dengan berbagai pihak. Adanya berbagai komunikasi lintas sektoral yang dilakukan FPI itulah yang kerap disalahartikan dan bahkan dijadikan bahan isu-isu yang tak berdasar oleh sementara pihak yang tak menyukai sepak terjang dakwah FPI.

Mengenai adanya oknum-oknum dalam tubuh FPI, pengurus pusat sangat terbuka untuk menerima masukan dan laporan dari masyarakat, yang penting ada bukti otentik. Jangan hanya laporan lisan. Kalau ada bukti, pengurus akan cepat memprosesnya secara tegas dan profesional, berdasarkan aturan main internal organisasi FPI.

0

KH M.A. SAHAL MAHFUDH : Politik NU sebagai Siyasah 'Aliyah Samiyah

Sebagaimana telah dimaklumi bersama, NU merupakan جمعيّة دينيّة إجتماعيّة (organisasi keagamaan yang bersifat sosial). Sebagai organisasi keagamaan Islam, tugas utama NU adalah menjaga, membentengi, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam menurut pemahaman أهل السّنّة والجماعة di bumi nusantara pada khususnya dan di seluruh bumi Allah pada umumnya.

Tugas ini tidaklah sederhana, di tengah-tengah era keterbukaan yang memberi peluang masuknya aliran-aliran dan kelompok-kelompok keagamaan yang cenderung memanfaatkan kebebasan untuk mencaci maki dan menyesat-nyesatkan (تضليل), bahkan menkafir-kafirkan (تكفير) terhadap pihak lain yang berbeda pemahaman keagamaan dengan dirinya. Padahal seharusnyalah era keterbukaan dan kebebasan membuat setiap kelompok semakin memantapkan sikap toleran (تسامح) dalam menyikapi perbedaan.

Alangkah dalamnya makna ungkapan Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dalam kaitan ini:

مذهبنا صواب يحتمل الخطأ, و مذهب غيرنا خطأ يحتمل الصواب

(Pendapat saya benar namun mungkin memuat kesalahan, pendapat orang lain salah namun mungkin juga ada benarnya: Red)

Menghadapi kenyataan yang tidak menggembirakan tersebut, menjadi tugas PBNU untuk menggerakkan secara optimal perangkat organisasi yang terkait dengan fungsi menjaga, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam ASWAJA, seperti mendorong optimalisasi peran dan kinerja Lembaga Dakwah NU (LDNU), Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) dan Lajnatut-Ta’lif wan-Nasyr NU (LTNNU). Dengan pendekatan حكمة dan موعظة حسنة dapat dipelihara kelangsungan ajaran ASWAJA, tanpa harus terlibat dalam tindakan-tindakan anarkhis yang sangat merugikan citra paham ASWAJA sebagai representasi ajaran Islam رحمة للعالمين.

Sebagai organisasi sosial (جمعيّة إجتماعيّة), NU harus mencurahkan perhatiannya secara serius pada bidang sosial, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertanian dan lain-lain yang menjadi problem kehidupan sehari-hari warga, masyarakat dan bangsa.

Hal ini perlu diingatkan, menjelang tahun 2014 yang merupakan tahun politik bangsa kita, karena dikhawatirkan tidak sedikit pengurus NU di berbagai tingkatan yang memperlakukan NU seakan-akan sebagai sebuah partai politik (حِزْبٌ سِيَاسِيٌّ), yang bergerak pada tataran politik praktis alias politik kekuasaan.

Politik kekuasaan yang lazim disebut politik tingkat rendah (low politics/سياسة سافلة) adalah porsi  partai politik dan warga negara, termasuk warga NU secara perseorangan. Sedangkan NU sebagai lembaga, harus steril dari politik semacam itu. Kepedulian NU terhadap politik diwujudkan dalam peran politik tingkat tinggi (high politics/سياسة عالية سامية ), yakni politik kebangsaan, kerakyatan dan etika berpolitik.

Politik kebangsaan berarti NU harus إستقامة dan proaktif mempertahankan NKRI sebagai wujud final negara bagi bangsa Indonesia. Politik kerakyatan antara lain bermakna NU harus aktif memberikan penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat, melindungi dan membela mereka dari perlakuan sewenang-wenang dari pihak manapun.

Etika berpolitik harus selalu ditanamkan NU kepada kader dan warganya pada khususnya, dan masyarakat serta bangsa pada umumnya, agar berlangsung kehidupan politik yang santun dan bermoral yang tidak menghalalkan segala cara.

Dengan menjaga NU untuk bergerak pada tataran politik tingkat tinggi inilah, jalinan persaudaraan di lingkungan warga NU (أخوّة نهضيّة) dapat terpelihara. Sebaliknya,manakala NU secara kelembagaan telah diseret ke pusaran politik praktis, أخوّة نهضيّة akan tercabik-cabik, karenanya نعوذ بالله من ذلك !

Oleh karena itu, sinyalemen adanya Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah di beberapa daerah yang dicalegkan dan lain sebagainya, wajib mendapatkan respons yang sungguh-sungguh dari Rapat Pleno ini, sesuai dengan ketentuan AD/ART tentang larangan rangkap jabatan.

Kiranya inilah pesan dan arahan yang perlu kami sampaikan.

DR. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH
Rais ‘Aam PBNU



*Sambutan dan Pengarahan Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disampaikan pada Rapat Pleno PBNU tanggal 6-8 September 2013 di Pondok Pesantren UNSIQ Al-Asy’ariyah Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah
0

TADZKIROH JAMA’AH ANSHORUT TAUHID BAGI RAKYAT DAN PENGUASA NEGRI INDAH YANG TERUS DIRUNDUNG MUSIBAH


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله نحمده نستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده ورسوله

Wahai kaum muslimin rohimani wa rohimakumulloh, perhatikanlah bahwa pada hari ini kita hidup didalam alam kemunafikan sedangkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala sangat membenci kaum munafikin. Bukti yang jelas dari kemunafikan kita adalah bahwa sejak bangsa ini dikaruniai kemerdekaan dari bangsa kafir, kita telah menyatakan perlawanan terang -terangan kepada Alloh Azza wa Jalla atas nama persatuan dan kesatuan bangsa yakni menghapus kalimat … kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi para pemeluknya … dari dasar negara.



Alloh Azza wa Jalla berfirman :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.
( QS. An Nisaa’ : 60 – 61 )

Dari kesalahan fatal ini, maka segala kebijakan dan arah pemerintahan negara yang dijalankan oleh siapapun penguasanya akan senantiasa mengundang murka Alloh Azza wa Jalla. Karena UU dan segala peraturan turunannya menjadikan akal dan hawa nafsu kita menjadi sumber hukum untuk mengatur ratusan juta rakyat dan membuang sumber hukum yang suci dari Alloh Robbul ‘Alamiin yakni Al Qur-anul Kariim dan As Sunnah Asy Syariif kecuali hanya sebagai teori yang dipelajari belaka.

Alloh Azza wa Jalla berfirman :

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
( QS Al A’raaf : 96 )

Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi was sallam bersabda :

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا وَقَعَتْ فِيْكُمْ خَمْسٌ ، وَأَعُوذُ بِاللهِ أَنْ تَكُونَ فِيْكُمْ أَوْ تُدْرِكُوهُنَّ : مَا ظَهَرَتِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ يُعْمَلُ بِهَا فِيْهِمْ عَلاَنِيَةً إِلاَّ ظَهَرَ فِيْهِمْ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِي أَسْلاَفِهِمْ ، وَمَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِِلاَّ مُنِعُوْا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا ، وَمَا بَخَسَ قَوْمٌ الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمُؤْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ ، وَلاَ حَكَمَ أُمَرَاءُهُمْ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلاَّ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْهِمْ عَدُوَّهُمْ فَاسْتَنْفَدَ بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ ، وَمَا عَطَّلُوا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِمْ إِلاَّ جَعَلَ اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ .

"Bagaimana kalian apabila terjadi lima perkara, dan aku berlindung kepada Allah mudah-mudahan lima perkara itu tidak terjadi pada kamu atau kamu tidak menjumpainya, yaitu,

  1.     Tidaklah perbuatan zina itu tampak pada suatu kaum, dikerjakan secara terang-terangan, melainkan tampak dalam mereka penyakit ta’un dan kelaparan yang tidak pernah dijumpai oleh nenek moyang dahulu.
  2.     Dan tidaklah kaum itu menahan zakat, melainkan mereka ditahan oleh Allah turunnya hujan dari langit, andai kata tidak ada binatang ternak tentu mereka tidak akan dihujani.
  3.     Dan tidaklah kaum itu mengurangi takaran dan timbangan, melainkan mereka disiksa oleh Allah dengan kesengsaraan bertahun-tahun dan sulitnya kebutuhan hidup dan nyelewengnya penguasa.
  4.     Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka itu menghukumi dengan selain kitab yang diturunkan oleh Allah, melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh yang merampas sebagian kekuasaan mereka.
  5.     Dan tidaklah mereka itu menyia-nyiakan kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya, melainkan Allah menjadikan bahaya di antara mereka sendiri." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Kenyataan yang dibentuk dari pengingkaran kepada nikmat Alloh berupa Diinul Islam ini menunjukkan betapa bangsa ini telah mengalami apa – apa yang dikhawatirkan oleh Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam diatas. Ditambah lagi, bangsa ini seperti tidak merasa bersalah dengan secara terus menerus memerangi para Wali-wali Alloh dalam bentuk memusuhi, menangkapi, menyiksa dan membunuhi mereka yang secara konsisten berjuang untuk meninggikan kalimatillah dalam wujud penegakkan Syari’at Islam di negri ini.

Padahal Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi was sallam telah bersabda :
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. ( Diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu )

Wahai kaum muslimin rohimani wa rohimakumulloh, pelaku kezhaliman dan yang mendiamkan kezhaliman pada dasarnya berada pada posisi yang sama sedangkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan kezhaliman atas Dzat-Nya Yang Maha Suci dan IA juga mengharamkan kezhaliman atas hamba-hambaNya.

Jika Alloh Subhanahu wa Ta’ala kemudian menimpakan berbagai musibah dalam berbagai bentuknya maka itu semua adalah masih dalam konteks RahmatNya agar manusia kembali kejalan yang benar, yakni jalan yang ditunjukiNya melalui para NabiNya. Jalan itu adalah kembali kepada Diinul Islam secara menyeluruh meliputi aqidah, syari’ah dan akhlaq Islam yang lurus dan benar.

Tentu saja kita berduka dengan banyaknya jatuh korban harta dan nyawa serta berbagai penderitaan yang dialami rakyat dengan sebab bencana – bencana yang terus menerus terjadi itu. Maka sebagai orang yang beriman mestinya semua bencana itu kita jadikan sebagai sebuah peringatan Alloh dan sudah seharusnya kita mau mengambil pelajaran penting dari semua musibah yang nilainya sangat mahal terkait jatuhnya korban harta dan nyawa tersebut. Dan bukan malah mengabaikan apalagi berprasangka buruk terhadap taqdir Alloh Azza wa Jalla.

Kita mendengar bahwa ada diantara pemimpin negri ini berkomentar tentang ketidak – terkaitan bencana alam dengan kehendak Penciptanya. Kita juga tahu ada seorang jurnalis yang menuduh Alloh itu kejam, Maha Suci Alloh dari penyifatan mereka yang jahil . Jadi bencana alam itu justru makin mengeraskan hati dan membuat gelap nurani mereka. Kenapa mereka tidak juga sadar dan tidak segera bertaubat ?

Wahai kaum muslimin rohimani wa rohimakumulloh, tidak ada jalan lain sekiranya kita berkeinginan memperbaiki keadaan negri ini selain kembali kepada ajaran Alloh dan RosulNya yakni dengan menerapkan Diinul Islam di seluruh aspek kehidupan.

Kesalahan fatal yang dilakukan founding fathers negri ini harus dikoreksi total dan jangan malah diberhalakan. Negara dan bangsa ini harus diatur dengan Syari’at Islam, jika terus kita melawan Alloh Azza wa Jalla, maka fikirkanlah : apakah kalian akan menang ? Alloh akan tetap menjadi Yang Maha Hidup dengan segenap ke-Maha Kuasa-Nya sedang kita akan mati dan tidak berdaya dihadapan MahkamahNya kelak di yaumil Qiyyamah.

Demikianlah Tadzkiroh ( peringatan ) ini kami sampaikan, alhamdulillahi Robbil ‘alamiin, was sholatu wa sallamu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in !
0

Mengungkap kezaliman media massa terhadap umat Islam.

Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang mayoritas penduduknya Muslim ini, sungguh ironis,  umumnya media massanya justru tak berpihak pada Islam dan kaum Muslimin.

Parade kezaliman atas pemberitaan umat mayoritas ini kian menyudutkan Islam. Sejumlah peristiwa, seperti kasus Ahmadiyah, Syiah Sampang, Gereja HKBP di Bekasi, Yasmin di Bogor, Irshad Manji, “terorisme”, dan sebagainya, jadi bulan-bulanan media massa mainstream yang tak berpihak pada Islam dan kaum Muslimin.

Belum lagi peristiwa-peristiwa dunia semisal berita perang Irak, senjata pemusnah massal, kasus 11 September 2001 di Amerika, perang terhadap “terorisme”, dan seterusnya, yang kesemuanya itu menghantam Islam dan kaum Muslimin. Ketidakadilan alias kezaliman, itulah yang terjadi hari ini, untuk menggambarkan penyudutan pemberitaan terhadap umat Islam.

Demikian diungkap Mohamad Fadhilah Zein pada bagian awal acara Bedah Buku ‘Kezaliman Media Massa terhadap Umat Islam’, Ahad (21 Juli 2013) di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan.
Buku-kezaliman-media-massa-terhadap-umat-Islam

Buku kezaliman media massa terhadap umat Islam

Penulis buku ini, Mohamad Fadhilah Zein, mantan produser/wartawan TVOne, memaparkan secara singkat, bahwa pemberitaan sejumlah kasus keumatan yang tidak berpihak pada Islam itu, antara lain disebabkan kaum Muslimin tidak menguasai media.

“Karenanya, tujuan menghadirkan buku ini, di antaranya karena umat Islam lemah dalam hal media,” ujar Fadhilah Zein. “Maka, buku ini hadir sebagai refleksi bahwa pentingnya media bagi umat Islam,” lanjutnya. Dan, bukankah sejarah pergerakan Islam selalu disertai dengan media?

Artinya, begitu pentingnya media sebagai alat untuk mendukung dan memperjuangkan kepentingan si pemiliknya. Maka, kata Fadhilah Zein, apa yang dihadirkan di televisi tak terlepas dari kepentingan pemiliknya. Tak aneh kalau kemudian partai-partai politik membangun media massa, karena media massa efektif untuk menghagemoni massa/publik.

Menyinggung kezaliman pemberitaan terorisme, Fadhilah mengungkap TVOne pernah memberitakan seorang pengusaha dikaitkan dengan “terorisme”, padahal orang tersebut bukan “teroris”. Itu terjadi pada  tayangan September 2012.

Begitu pula MetroTV, ujarnya, saat menayangkan ‘Rohis Sarang Teroris’, padahal faktanya tidak demikian. Lalu, ayah dua putra ini menyebut aksi penggerebekan “terorisme” di Temanggung beberapa tahun lalu sekaligus sebagai salah satu upaya untuk menaikkan rating stasiun televisi tertentu.

“Demikian hebohnya aksi penggerebekan ‘terorisme’ di Temanggung pada 2009, lalu disiarkan secara live oleh stasiun televisi, ini tak lebih dari realityshow dalam rangka menaikkan rating,” ungkapnya.

Kezaliman media massa lainnya, menurut Fadhilah Zein, ketika Syafi’i Ma’arif mengakui pernah diminta Polri untuk turut membantu, menyudutkan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam kasus “Terorisme”, namun tokoh Muhammadiyah itu menolaknya. “Tapi pernahkah media massa nasional mengangkat tema ini secara kritis, mengkritisi dan memblowupnya, itu tidak pernah,” sesalnya.

Begitu pula waktu demo menentang Irshad Manji, sebuah media berita online terbesar cuma menulis 150 orang yang demo, padahal ribuan, ini kezaliman terhadap umat Islam.

“Kasus Irshad Manji, Gereja HKBP, kasus Ciketing, terorisme, dan sebagainya, semuanya bermuara pada kesimpulan untuk menegaskan: umat Islam itu intoleran, inilah wajah umat Islam Indonesia,” kata Fadhilah Zein.

Secara tak sadar kita diatur media. Kita hidup dimana teknologi informasi bergerak sangat cepat. Dan, lewat sejumlah media mainstream itu, umat Islam disudutkan. “Tetapi ada perlawanan dari media-media Islam seperti Arrahmah.com, Islampos, Salam-Online, Voa-Islam, dan lainnya. Tak mustahil perlawanan media-media Islam ini, akan mengubah semua itu,” harapnya.

Pembicara berikutnya, Mustofa B Nahrawardaya, seorang aktivis muda Muhammadiyah yang sedang ‘naik daun’, membenarkan apa yang diungkap Fadhilah Zein. Aktivis yang pernah menjadi wartawan ini mengatakan, bahwa ia juga merasakan dan mengalami apa yang telah diungkap oleh Fadhilah Zein.

Menurut Mustofa, media mainstream akan memberitakan jika peristiwa itu merugikan umat Islam. “Tetapi tidak memberitakan jika kasus itu menguntungkan umat Islam,” terangnya.

Selanjutnya, kata Mustofa, fakta-fakta itu bisa dibuat. Ia menggambarkan, bagaimana, misalnya, fakta “terorisme” itu dibuat. Gara-gara mengungkap hal ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai murka kepadanya.

“Waktu itu, dalam dialog (Indonesia Lawyers Club, red)  di TVOne saya ungkapkan bagaimana fakta-fakta terorisme itu bisa dibuat, Kepala BNPT Ansyaad Mbai murka pada saya, dan sampai 3 bulan saya tidak bisa tampil di TVOne,” kata Mustofa.

Di bagian terakhir Ustadz Fahmi Salim, MA, menegaskan bahwa media massa menjadi tonggak penting untuk tegaknya risalah Islam.

Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini juga mengingatkan, bahwa umat Islam sekarang sedang dikepung musuh dari berbagai penjuru, tapi kemudian ada kuda-kuda berlari kencang dan memercikkan bunga api dengan pukulan kuku kakinya, menyerang kumpulan musuh sebagaimana digambarkan dalam surat ke-101 (QS Al-’Adiyat).

Karena itulah, kata Ustadz Fahmi Salim, umat Islam harus menyiapkan semua sarana, termasuk media, seperti tadi disampaikan oleh penulis buku ini.

Pentingnya kita menguasai media agar, “Jangan terus-terusan kita dibodohi media massa mainstream yang menggambarkan kehebatan musuh,” pintanya.

“Dan, jangan lupa, yang mendorong untuk melawan stigmatisasi (kehebatan musuh, red) juga adalah media sosial. Jadi media sosial juga penting untuk mengimbangi media mainstream,” imbuhnya.

Bagaimanapun, menurut Ustadz Fahmi, kita harus melawan ketika media mainstream menutup-nutupi kasus yang tidak menguntungkan mereka. “Kasus Ahmadiyah atau Syiah, luar biasa, dijadikan alat untuk menampar, lewat kasus-kasus ini umat Islam dizalimi oleh tirani media. Ulama kredibilitasnya dihancurkan, ini harus kita lawan,” tandasnya.

Ustadz Fahmi juga mengingatkan, bahwa jahatnya media mainstream bisa membalikkan persepsi umat  yang benar. “Bahwa orang-orang  kafir itu lebih baik daripada orang-orang beriman. Orang Islam tak becus mengurus negara, dan sebagainya, macam-macam stigma yang mereka lekatkan,” kata Ustadz Fahmi.

“Mereka menginginkan agar orang-orang kafir saja yang memimpin negara ini… orang-orang kafir lebih santun, lebih profesional, bahkan lebih ‘Islam’ dibanding orang Islam. Dan, mereka mencontohkan Jepang, Amerika, tapi mereka tutup mata, mestinya lihat juga dong negara-negara kafir seperti Filipina, Myanmar, dan lainnya, yang tak becus mengurus negaranya,” papar Ustadz Fahmi seraya mengutip surat An-Nisaa’ ayat 61. (salam-online/arrahmah.com)
0

Habib Muhsin : FPI akan bubar sendiri jika hukum ditegakkan dengan baik

Terkait adanya desakan sebagian komponen masyarakat mengenai pembubaran Front Pembela Islam, ketua DPP FPI bidang Da’wah sekaligus jubir FPI, Habib Muhsin Alattas memaparkan bahwa bagi pihak-pihak yang berharap FPI dibubarkan tak perlu risau.

“FPI akan bubar sendiri jika hukum ditegakkan dengan baik oleh aparat dan pejabat negara,” kata Habib Muhsin Sabtu (20/7/2013), lansir fpi.co.id.

Habib Muhsin juga menyesalkan sikap media masa terhadap FPI. Beliau mengatakan FPI tidak perlu pembelaan dari media, yang dibutuhkan FPI hanya pemberitaan yang berimbang apa adanya. “Jangan hanya menyudutkan FPI dan menyuarakan berita sepihak tanpa mendengar paparan dari pihak FPI.”

Bila kita cermati, kata Habib, terlihat jelas cara media memaparkan berita yang begitu tendensius terhadap FPI hingga bagi banyak kalangan yang terlihat hanyalah kesalahan FPI semata. Padahal DPD FPI Jateng sudah melakukan klarifikasi melalui selebaran dan SMS.

Kronologis  yang sudah disebar ke berbagai media, tapi kebanyakan media tidak  memuatnya, karena media punya kepentingan memojokkan FPI. Bayangkan saja, tidak ada satu pun media memberitakan tentang puluhan preman yang menyerang sejumlah anggota FPI hingga terluka parah bahkan sampai kritis.

Media masa umum begitu sibuk menyoroti dan menyudutkan FPI, menutup mata untuk membuat berita sebenarnya, bahwa yang terjadi adalah bentrok antara FPI dan preman bayaran cukong prostitusi dan bandar judi bukan dengan warga. FPI selalu didudukkan dalam posisi pihak yang bersalah serta menjadi sasaran empuk untuk menjadi bahan berita negatif media.

Perlu diketahui, dalam setiap aktivitas lapangan, FPI selalu bertindak secara prosedural. Segala tindakan yang diambil adalah bagian dari proses yang berjalan sebelumnya. FPI tidak akan sampai melakukan sweeping, jika saja aparat tanggap dan sigap dalam menjaga ketentraman di bulan Ramadhan termasuk penertiban tempat maksiat.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah tugas FPI yang tetap wajib dijalankan, tetapi prosedur tetap wajib ditegakkan.

FPI tidak ingin membela diri atau pun merasa tidak bersalah. Jika FPI bersalah, silahkan di proses secara hukum. Hanya saja letakkan sesuatu pada tempatnya, dengan kata lain pihak preman serta pihak yang merekrut mereka dan provokator pemanas suasana juga harus ikut diproses secara hukum. Bentrokan ini tentu terjadi karena ada dua pihak yang berseteru, namun mengapa tuntutan di proses secara hukum hanya dialamatkan kepada FPI?

“Bila bentuknya penyerangan, tentu wajar hanya FPI yang diproses secara hukum. Namun peristiwa Kendal adalah bentrok, hingga seharusnya yang dipanggil atau diproses secara hukum tentu tidak hanya fpi, melainkan juga pihak lain yang ikut andil dalam kejadian ini,” tegas Habib Muhsin

Semua tuduhan anarkis terhadap FPI adalah istilah media masa dalam pembentukan opini masyarakat terhadap FPI, bahwa semua tindakan FPI negatif. Maka apakah kita akan berdiam diri melihat begitu maraknya peredaran miras, narkoba, prostitusi dan perjudian? Apakah kita rela melihat bangsa ini  semakin hancur? FPI juga bagian elemen masyarakat yang seharusnya didukung dalam proses pengawasan, karena aparat tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa dukungan berbagai pihak yang punya harapan sama.

Pada akhirnya semua pihak harus melihat eksistensi dan tindakan FPI dengan mata melek dan pikiran yang lebih terbuka. Tujuan utama FPI melakukan kegiatan nahi munkar tidak lebih untuk membersihkan penyakit masyarakat yang sudah sangat jauh merusak moral bangsa ini, agar paling tidak kerusakan moral tidak semakin parah.

“Apakah demi mengedepankan ego dengan wacana pembubaran FPI bisa membuat keadaan lebih baik? Apakah tindakan FPI dalam pengawasan penyakit masyarakat begitu menakutkan dibandingkan dengan maraknya kegiatan pengrusakan moral bangsa?” tanya Habib Muhsin.

Hendaknya media juga lebih cerdas dalam mengungkap berita hingga tidak memutar balikkan pola pikir masyarakat.

“Jangan mengedepankan kebebasan dan hak azazi kemudian membiarkan penyakit masyarakat yang justru daya rusaknya lebih menakutkan dibanding ‘stempel anarkis’ yang selalu digemakan media terhadap FPI dan menanamkan opini buruk tentang FPI,” pungkasnya.

(azmuttaqin/fpi.or.id/arrahmah.com)
0
animasi  bergerak gif

Recent Post

Category Berita Pejuang Islam »

Arsip Blog

Berita Pejuang Islam

 
Support : Fans Pages | Berita FPI | Admin
Copyright © 2011. Berita FPI - All Rights Reserved
Blog ini dipersembahkan oleh MAS
Proudly powered by Blogger